GHIBTHOH

GHIBTHOH

โœ๐Ÿป Muhammad Abduh Tuasikal, MSc  

๐Ÿ“Dari โ€˜Abdullah bin Masโ€™ud radhiyallahu โ€˜anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ุญูŽุณูŽุฏูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ููู‰ ุงุซู’ู†ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุขุชูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุงู„ุงู‹ ููŽุณูู„ู‘ูุทูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽู„ูŽูƒูŽุชูู‡ู ููู‰ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ุŒ ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŒ ุขุชูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉูŽ ุŒ ููŽู‡ู’ูˆูŽ ูŠูŽู‚ู’ุถูู‰ ุจูู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูุนูŽู„ู‘ูู…ูู‡ูŽุง

โ€œTidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qurโ€™an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.โ€

๐Ÿงฒ Tentang Ghibtoh

๐Ÿ’กIbnu Baththol rahimahullah mengatakan, โ€œHasad yang dimaksud di sini adalah hasad yang dibolehkan oleh Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan bukan hasad yang tercela.โ€
Ibnu Baththol mengatakan pula, โ€œInilah yang dimaksud dengan judul bab yang dibawakan oleh Imam Bukhari yaitu โ€œBab Ghibthoh dalam Ilmu dan Hikmahโ€. Karena siapa saja yang berada dalam kondisi seperti ini (memiliki harta lalu dimanfaatkan dalam jalan kebaikan dan ilmu yang dimanfaatkan pula, pen), maka seharusnya seseorang ghibthoh (berniat untuk mendapatkan nikmat seperti itu) dan berlomba-lomba dalam kebaikan tersebut.โ€œ

๐Ÿ’กIbnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menjelaskan, _โ€œYang dimaksud hadits di atas adalah tidak ada keringanan pada hasad kecuali pada dua hal atau maksudnya pula adalah tidak ada hasad yang baik (jika memang benar ada hasad yang baik). Disebut hasad di sini dengan maksud hiperbolis, yaitu untuk memotivasi seseorang untuk meraih dua hal tersebut. Sebagaimana seseorang katakan bahwa hal ini tidak bisa digapai kecuali dengan jalan yang keliru sekali pun. Dimotivasi seperti ini karena adanya keutamaan jika seseorang menggapai dua hal tersebut. Jika jalan yang keliru saja ditempuh, bagaimana lagi jika jalan yang terpuji yang diambil dan mungkin tercapai. Intinya masalah ghibtoh ini sejenis dengan firman Allah,

ููŽุงุณู’ุชูŽุจูู‚ููˆุง ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽุงุช

โ€œBerlomba-lombalah dalam kebaikan.โ€  Karena musobaqoh yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah berlomba-lomba dalam kebaikan, siapakah nantinya yang terdepan.

๐Ÿ’กAn Nawawi rahimahullah menjelaskan, โ€œPara ulama membagi hasad menjadi dua macam, yaitu hasad hakiki dan hasad majazi.
Hasad hakiki adalah seseorang berharap nikmat orang lain hilang. Hasad seperti ini diharamkan berdasarkan kata sepakat para ulama (baca: ijmaโ€™) dan adanya dalil tegas yang menjelaskan hal ini.
Adapun hasad majazi, yang dimaksudkan adalah ghibthoh. 
Ghibthoh adalah berangan-angan agar mendapatkan nikmat seperti yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang. Jika ghibthoh ini dalam hal dunia, maka itu dibolehkan. Jika ghibthoh ini dalam hal ketaatan, maka itu dianjurkan.
Sedangkan maksud dari hadits di atas adalah tidak ada ghibtoh (hasad yang disukai) kecuali pada dua hal atau yang semakna dengan itu.โ€

Alhamdulillahilladzi bi niโ€™matihi tatimmush sholihaat.


๐Ÿ“กย https://rumaysho.com/1586-hanya-boleh-hasad-pada-dua-orang.html

Guru Les privat mengaji Sidoarjo | Malang | Surabaya | Solo/Surakarta | Jogja/Yogyakarta | Bandung | Jabodetabek | Jakarta | Bogor | Depok | Tanggerang | Bekasi WA 085732690659