Fiqh Puasa 3

Alhamdulillah dua pembahaan sebelumnya kami tulis pada judul “fiqh puasa 1” dan “fiqh puasa 2”, kemudian kami lanjutkan pada judul ketiga yakni fiqh puasa 3. Materi fiqh puasa 3 memuat apa saja, silahkan dibaca, semoga secara berurutan semakin mempermudah dalam memahami.

Rentang waktu puasa

Puasa tidak semerta-merta dikerjakan sesuai dengan keinginan manusia sendiri atau sesuai dengan hawa nafsu, melainkan semua ada tuntunannya. Puasa ramadhan memiliki durasi yakni rentang waktu yang harus diketahui oleh seorang muslim, agar dalam menjalankannya sesuai pada syariat islam.

  • Puasa dimulai ketika sudah terbit fajar shadiq atau fajar yang kedua. Allah Ta’ala berfirman:

Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS. Al Baqarah: 187).

Yang dimaksud dengan khaythul abyadhdi sini adalah fajar shadiqatau fajar kedua karena berwarna putih dan melintang di ufuk seperti benang. Adapun fajar kadzibatau fajar pertama itu bentuknya seperti dzanabus sirhan(ekor serigala). Nabi Shallallahu’alaihi Wasallambersabda:

Fajar itu ada dua: pertama, fajar yang bentuknya seperti ekor serigala, maka ini tidak menghalalkan shalat (shubuh) dan tidak mengharamkan makan. Kedua, fajar yang memanjang di ufuk, ia menghalalkan shalat (shubuh) dan mengharamkan makan (mulai puasa)” (HR. Al Hakim, Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’).

  • Puasa berakhir ketika terbenam matahari. Allah Ta’alaberfirman:

 “lalu sempurnakanlah puasa hingga malam” (QS. Al Baqarah: 187).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda:

jika datang malam dari sini, dan telah pergi siang dari sini, dan terbenam matahari, maka orang yang berpuasa boleh berbuka” (HR. Bukhari – Muslim).

Sumber : Artikel Muslim.or.id